Gerakan Mahasiswa NI Gelar Aksi di DPRD Bengkalis, Terkait Kelangkaan BBM
Editor: alzamret | Wartawan: Farizal
BENGKALIS (klikbuser.com) β Ketegangan memuncak di halaman Gedung DPRD Kabupaten Bengkalis, Rabu (13/5/2026). Puluhan massa aksi dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) berdatangan dengan tuntas mengawal krisis kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melumpuhkan wilayah pulau Bengkalis dan Pulau Rupat.
Namun suasana berubah panas setelah terjadi ketidaksesuaian pemahaman kesepakatan yang telah dibangun sebelumnya. Apa yang dijanjikan sebagai ruang dialog terbuka di Ruang Sidang Paripurna, berubah menjadi tarik ulur tempat pertemuan, hingga mahasiswa menuding adanya upaya pembohongan dan pengingkaran komitmen oleh pihak berwenang maupun lembaga dewan.
Aksi bermula saat rombongan mahasiswa tiba dengan membawa surat pemberitahuan unjuk rasa, bukan surat permohonan audiensi. Namun, atas permintaan keras dan bujukan pihak kepolisian, massa bersedia menunda demonstrasi dan sepakat berdialog dengan syarat mutlak.
Pertemuan dilakukan secara terbuka di Ruang Sidang Paripurna DPRD. Kesepakatan itu kala itu dinyatakan "jelas dan disepakati bersama". Namun, kenyataan di lapangan berbanding terbalik. Alih-alih dibawa masuk ke ruang Banmus, pihak DPRD justru mengarahkan mereka ke ruang rapat biasa, memicu kemarahan massa.
Menanggapi keributan dan penolakan massa, Anggota DPRD Komisi IV, M. Isa, berusaha meredam situasi namun tetap menegaskan prinsip ketatanegaraan. Ia menilai berdialog di halaman terbuka kurang pantas dan kurang etis, meski menghargai kehadiran dan keinginan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi.
"Ketika masyarakat menemukan persoalan, tempat menyelesaikannya adalah meja musyawarah. Saya pikir tak etis kita berlama-lama di halaman ini, namun keinginan adik-adik kami turuti. Kami minta pertemuan ini lebih hikmat.
Mari berkumpul berhadapan di sini, atau kami yang mendekat. Izin bicara?, sabar dulu. Kita ingin ini kondusif, kita sama-sama ingin selesaikan masalah daerah ini. Saya belum beri giliran bicara, kita atur dulu posisinya agar nyaman berdiskusi," ujar Isa berusaha menata suasana di tengah sorak-sorai massa.
Senada, Anggota Komisi IIl DPRD Bengkalis, Fakhtiar, menyambut semangat perjuangan mahasiswa dengan seruan "Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat!", lalu mengajak keras agar diskusi dipindah ke ruang rapat yang telah disiapkan pihak dewan.
Menurutnya, ruangan tersebut adalah tempat resmi, teratur, dan selalu digunakan untuk menyerap aspirasi baik dalam bentuk Rapat Dengar Pendapat (RDP) maupun menindaklanjuti aksi unjuk rasa.
"Kami dari lembaga DPRD mengajak rekan-rekan masuk ke forum, ke ruangan yang memang sudah tersedia khusus untuk hearing. Di sana kita lebih leluasa bicara, lebih teratur, dan bisa bedah banyak hal. Kami harapkan kawan-kawan menanggapi ini agar sama-sama cari solusi atas surat yang disampaikan. Ruang itu sama hikmatnya, sama terhormatnya untuk kita berdiskusi," tegas Fakhtiar.
Namun, penjelasan pihak dewan justru memicu ledakan emosi dari pihak mahasiswa. Koordinator Umum Aksi, Rahmad Hidayat, angkat bicara dengan nada tinggi dan tegas, meluruskan fakta awal yang dianggap dikaburkan. Di hadapan anggota dewan dan puluhan massa, ia membongkar kronologi kesepakatan yang menurutnya sudah jelas, namun diingkari di lapangan.
"Begini Bapak-bapak, surat awal yang kami masuk adalah surat aksi, bukan surat audiensi! Kami ditelepon pihak kepolisian, dibujuk supaya jangan ada aksi, ajak audiensi saja. Kami sepakat, tapi ada satu syarat mutlak, audiensi dilakukan di Ruang Sidang Paripurna, dan tidak ada aksi di luar. Pihak kepolisian iyakan, sepakat, semuanya clear," tegas Rahmad dengan suara menggelegar.
Ia kemudian menuding keras ketidaksesuaian fakta hari ini. "Kenapa situasi hari ini bertolak belakang dengan apa yang kita komitmenkan? Ini salahnya di mana? Di polisi atau di dewan? Kami tegaskan, Jangan Coba-Coba Membohongi Kami, Kami sudah ikuti semua kemauan Bapak-bapak dewan dan kepolisian. Apa lagi yang kurang dari kami? Kami sudah berikan keluwesan, tapi balasannya ingkar janji!"
Dengan keputusan bulat yang tak bisa diganggu gugat, Rahmad menegaskan sikap akhir perjuangan massa.
"Setelah ini, kami ambil TOA kembali, kami lanjutkan aksi di depan gedung. Kami tetap akan demonstrasi seperti rencana awal! Tak perlu diperpanjang debat ini, keputusan kami mutlak. Kami kecewa janji dimakan janji," tandasnya disambut sorakan dukungan massa.
Di akhir pertemuan yang penuh ketegangan itu, Fakhtiar kembali merespons ketegasan mahasiswa. Ia menegaskan, persoalan kelangkaan minyak yang diangkat mahasiswa adalah hal yang sama-sama ingin diselesaikan oleh lembaga DPRD. Pihaknya mengaku telah menyiapkan segalanya untuk membahas tuntas masalah krusial yang menyengsarakan masyarakat Bengkalis dan Pulau Rupat itu.
"Apa yang disampaikan rekan-rekan soal persoalan minyak, itu sama dengan apa yang kami harapkan, masalah ini harus selesai. Kami sudah siapkan ruang khusus penyerapan aspirasi, sudah ready, siap diskusi. Hanya saja kami minta kondusif, karena tujuannya satu, cari solusi terbaik bagi rakyat," pungkas Fakhtiar.
Pertemuan di halaman gedung pun bubar dalam suasana tegang namun aman. Mahasiswa GMNI tetap teguh pada pendiriannya untuk melanjutkan orasi di depan gerbang DPRD, menuntut tanggung jawab penuh pemerintah daerah dan perubahan kebijakan nyata. Sementara lembaga dewan dinilai gagal menjaga komitmen awal yang telah disepakati bersama.(kbz)
#demomahasiswa #dprdbengkalis #bengkalis
