Soal Kebakaran di Rohul, Empat Meninggal Sumber Api dari Dapur, Belum Ditemukan Unsur Pidana
Editor: alan | Wartawan: alan
PEKANBARU (klikbuser.com) -- Detak Indonesia--Kebakaran rumah di Desa Sontang Kecamatan Bonai Darussalam Kabupaten Rokanhulu, Riau, pada 17 Agustus 2024 lalu yang menewaskan Berliana Br Siahaan (ibu), Tiara Damayanti Purba (mahasiswi), Christian Edwar Purba (pelajar), dan Asyer Eliazard Purba penyelidikannya diambil-alih Ditreskrimum Polda Riau.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Kombes Pol Asep Darmawan SIK SH menjawab wartawan di Lapangan Hijau depan Mapolda Riau usai Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Selasa (1/10/2024) menegaskan pihaknya telah ambil alih kasus itu dan telah melaksanakan gelar perkara di Mapolda Riau.
"Dari hasil Labfor Polda Riau sumber api berasal dari dapur yang baru dibangun. Belum ditemukan adanya unsur residu dari luar, artinya tidak ditemukan unsur pidana, atau unsur sengaja dibakar dari luar," tegas Kombes Asep Darmawan.
Namun Kombes Asep menegaskan pihaknya masih mengembangkan penyelidikan terkait kematian Ny Berliana Br Siahaan (ibu) yang berprofesi sebagai pengusaha mandiri yang meminjamkan uang kepada nasabah.
Memang Kombes Asep Darmawan mengakui dia tidak diberitahu adanya kejadian ini pada sebulan lalu pada saat kejadian 17 Agustus 2024. Tiba-tiba ada demo di Mapolda Riau dari mahasiswa, Asep ditelepon Kapolda Riau dan Asep kaget mengaku tak mendapat laporan dari Kapolres Rohul adanya kejadian ini. Akhirnya menurut Kombes Asep kasus ini ditarik ke Polda Riau penyelidikannya dan segera dituntaskan Ditreskrimum Polda Riau.
Seperti diberitakan media sebelumnya, dalam situasi cooling system menjelang Pilkada serentak 2024, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Lancang Kuning (FIA UNILAK) menggelar aksi protes di depan Mapolda Riau pada Jumat lalu, 27 September 2024.
Aksi tersebut menuntut pencopotan Kapolres Rokan Hulu, AKBP Budi Setiyono SIK MH, terkait lambatnya proses penyelidikan kasus kebakaran yang terjadi pada 17 Agustus 2024 di PT Gerbang Sawit Indah (GSI), Desa Sontang, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Kebakaran tersebut menewaskan empat orang, termasuk anggota keluarga dari Fakultas Ilmu Administrasi UNILAK Pekanbaru.
Lebih dari satu bulan sejak peristiwa tersebut, kepolisian belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab kebakaran yang menewaskan Berliana Br Siahaan (ibu), Tiara Damayanti Purba (mahasiswi), Christian Edwar Purba (pelajar), dan Asyer Eliazard Purba. Ketidakjelasan ini mendorong sekitar 70 mahasiswa melakukan aksi solidaritas dengan membawa atribut seperti spanduk, bendera, dan menggunakan mobil komando serta sound system.
Koordinator Umum aksi, Muhammad Anang Prayogi, bersama Koordinator Lapangan, Farikh Maulana Putra, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk solidaritas terhadap rekan mereka yang menjadi korban tewas terbakar, sekaligus kritik terhadap lambannya penanganan kasus yang telah berjalan lebih dari sebulan tanpa perkembangan berarti. Mereka menilai lambannya penanganan kasus mencerminkan kurangnya keseriusan aparat dalam menyelesaikan kasus yang merenggut nyawa empat orang.
Dalam pernyataan sikapnya, BEM FIA UNILAK Pekanbaru melalui Muhammad Abdullah Syaputra, menyampaikan tuntutan agar Polda Riau segera mendorong Polres Rokan Hulu dan Polsek Bonai Darussalam mengungkap penyebab kebakaran. Mereka juga menuntut pencopotan Kapolres Rokan Hulu yang dianggap tidak mampu menangani kasus ini dengan baik, serta meminta agar Polda Riau turun langsung dalam proses penyelidikan. Jika tuntutan mereka tidak direspons, mahasiswa siap menggelar aksi lanjutan dengan massa yang lebih besar.
“Kami dari Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Lancang Kuning merasa perlu turun aksi karena sudah lebih dari sebulan, belum ada kejelasan mengenai apakah kebakaran ini murni kecelakaan atau ada unsur pidana di dalamnya. Kami menuntut agar kasus ini segera ditangani dengan serius, terutama karena ada korban dari keluarga kami,†ujar Muhammad Abdullah Syaputra dalam orasinya.
Mahasiswa juga menyatakan siap untuk menggelar aksi lanjutan jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. “Jika dalam waktu dekat tidak ada tanggapan dari pihak kepolisian, kami siap turun aksi lagi. Ini bukan hanya tentang keluarga kami, tetapi juga tentang keadilan untuk seluruh korban kebakaran,†tambah Abdullah.
Para mahasiswa berharap agar penyelidikan dapat dipercepat sehingga kebenaran dan keadilan bagi para korban bisa segera terwujud.
“Kami tidak hanya menuntut keadilan untuk para korban, tetapi juga agar kejadian serupa tidak terulang lagi di kemudian hari,†tutup Abdullah dalam orasinya.(rls/kba)