SKANDAL BERMASA BENGKALIS MENGUAK: Diduga Pakai Stempel Kampus Palsu, Dana Tapal Batas Miliaran Mengalir ke Rekening Pribadi
Editor: redaksi | Wartawan: Farizal
BENGKALIS (klikbuser.com) — Kasus dugaan korupsi Program Bantuan Keuangan Khusus Desa Bermasa di Kabupaten Bengkalis terus bergulir dan makin dalam. Unit III Tipikor Satreskrim Polres Bengkalis kini mengendus dugaan pemalsuan identitas lembaga hingga stempel perguruan tinggi, dengan modus pengalihan dana ke rekening pribadi.
Program Bermasa sendiri merupakan program unggulan Pemkab Bengkalis. Sebanyak 136 desa mendapat kucuran Rp1 miliar per desa setiap tahun periode 2022-2025. Dari jumlah itu, sekitar Rp95 juta per desa dialokasikan khusus untuk penetapan tapal batas desa, mulai dari rakor batas antar-desa, pembuatan pilar batas sementara dan definitif, hingga sosialisasi hukum untuk mencegah konflik lahan.
Namun, pelaksanaannya diduga menyimpang. "Tim masih memeriksa hal-hal mendasar terkait keabsahan lembaga yang dipakai, apakah benar lembaga resmi atau ada unsur pemalsuan stempel," ungkap Kanit III Tipikor Polres Bengkalis, *Ipda Doni Irawan*, Senin (19/10/2026).
Dosen dan Pejabat PMD Dipanggil Berkali-kali
Penyidik telah memanggil seorang dosen dari salah satu perguruan tinggi terbesar di Bengkalis berinisial A sebanyak tiga kali. Dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Bengkalis, Kepala Bidang Pemerintahan Desa, Rinaldi, telah dipanggil dua kali bersama tiga orang stafnya.
Sebelumnya, puluhan kepala desa, perangkat desa, dan pejabat PMD juga telah menjalani pemeriksaan sejak 3 September 2026.
Saat dimintai keterangan usai pemeriksaan, Rinaldi hanya berkomentar singkat: *“Aku pusing bang,”* lalu pergi meninggalkan wartawan.
Kepala Dinas PMD Bengkalis, H. Ismail, mengaku baru mengetahui adanya pemeriksaan terhadap jajarannya. Ia belum dapat memastikan keterlibatan perguruan tinggi dan menyebut sejumlah Peraturan Bupati terkait masih dalam proses penyelesaian.
Dana Diduga Ditarik Tunai
Sumber internal menyebutkan, dana tapal batas diduga tidak sepenuhnya digunakan sesuai peruntukan. Sebagian dialihkan ke rekening pribadi dan bahkan ditarik tunai. Dugaan pemalsuan stempel kampus dipakai untuk memuluskan transaksi tersebut.
Hingga kini kasus masih dalam tahap pengumpulan keterangan dan belum ada penetapan tersangka. Polisi memastikan akan menggelar perkara jika seluruh dugaan terverifikasi. "Sabar, pada waktunya akan kami kabari," tegas Ipda Doni.(kbz)
