Ketika Organisasi Terus Berubah, Siapa yang Paling Siap Menyesuaikan Diri?
Editor: redaksi | Wartawan: Haswarnova
Oleh: Syafriyansyah, Mahasiswa S2 Magister Manajemen, Pascasarjana Unilak.
Sebagai Team Leader Pelayanan Pelanggan di PT PLN (Persero) ULP Air Molek, Syafriyansyah melihat bahwa persoalan organisasi sebaiknya tidak hanya dibicarakan sebagai keluhan, tetapi juga sebagai bahan pembelajaran. Di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M., Syafriyansyah mencoba membaca pengalaman kerjanya dengan sudut pandang manajemen yang lebih tertata.
“Isu yang saya angkat berkaitan dengan perubahan organisasi. Dalam pengamatan saya, persoalannya terlihat dari organisasi yang terus mengalami fenomena perubahan seiring perkembangan zaman,” katanya. Ia menegaskan bahwa isu ini perlu disampaikan dengan bahasa yang hati-hati, karena tujuan utamanya bukan mencari kesalahan, melainkan mencari jalan perbaikan.
Menurut Syafriyansyah, akar masalahnya tidak berdiri sendiri. “Kalau dilihat lebih dalam, penyebabnya berkaitan dengan: (1) perkembangan zaman; (2) keharusan mengikuti perundang-undangan yang berlaku; dan (3) posisi perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan bisnis, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan pemerintah.
Jadi, kita perlu melihatnya sebagai rangkaian sebab-akibat di dalam organisasi,” ujarnya. Dari kondisi itu, dampak yang muncul adalah proses internal kurang berkembang dan keuntungan tidak sepenuhnya dimiliki perusahaan.
Untuk memperkuat gagasannya, Syafriyansyah mengaitkan persoalan tersebut dengan Institutional Theory. Ia menjelaskan, “Teori ini membantu saya memahami bahwa persoalan di organisasi tidak hanya soal individu, tetapi juga soal sistem, pola komunikasi, sumber daya, aturan, dan cara organisasi mengambil keputusan.” Dalam penjelasannya, organisasi sering menyesuaikan diri agar dianggap legitim, diterima, dan dipercaya oleh masyarakat, pemerintah, pelanggan, maupun institusi lain.
Mengenai solusi yang paling realistis, Syafriyansyah menjawab bahwa perbaikan harus dilakukan secara bertahap. “Saya melihat solusinya adalah memperbaiki komunikasi, memperjelas SOP, memperkuat kompetensi SDM, membangun kolaborasi, dan melakukan evaluasi berbasis data. Yang penting, solusi itu dijalankan dengan komunikasi yang baik, tidak memojokkan siapa pun, dan bisa diterima oleh orang-orang yang terlibat di dalam organisasi,” ungkapnya.
Menanggapi gagasan tersebut, Dr. Chandra, S.T., M.M. sebagai bagian dari masyarakat, praktisi, dan peneliti ilmu manajemen menilai bahwa pandangan Syafriyansyah memiliki nilai reflektif karena berangkat dari pengalaman kerja nyata dan dikaitkan dengan teori organisasi.
Ia menggarisbawahi pentingnya memperkuat gagasan ini dengan data lapangan, ukuran keberhasilan, serta tahapan pelaksanaan yang sederhana. Menurutnya, narasi publik sebaiknya tetap berimbang, aman, tidak mengandung unsur SARA, tidak menyudutkan pihak tertentu, dan diarahkan pada penguatan sistem kerja serta kualitas sumber daya manusia.(***)
